Begitu aku menyebutnya, karena sosoknya bukan tersusun dari darah dan daging. Uhm.. Bukan, bukan juga jiwa putih yang mengisi rangka belulangnya. Ia tersusun dari sepenuhnya rasa kalah, jiwa pengecut, dan sedikit sari kecoak. Iya, kecoak, binatang yang berkubang di sampah dan saluran pembuangan, karena memang seperti itu bau nya, bau sampah, busuk dan menjijikan.
Posted in Aku dan Mereka | Tagged aku, Bali, cowok, pikiranku, teman | 2 Comments »
Saat saat itu tiba, saat perpisahan tak lagi mampu diusir, saat selamat tinggal menoreh tajam diantara Perempuan dan Cinta. Maka saat itu tak lagi ada kata yang mampu terucap, hanya linangan airmata bisu. Hadiah terperih hari ini, tahun ini.
Posted in Sebongkah Rasa | Tagged aku, Bali, cinta, cowok, ngekngok ku, perempuan, pikiranku, terima kasih | 2 Comments »
Jemari ini sempat bergetar saat menyadari bahwa decitan tuts ini tak lagi berlari si angka 2011. Sempat terbersit, “apa lagi yang telah terlewat setahun ini?” tapi hanya hening dan deru masa lalu yang menjawabnya. Saat menoleh pada pendaran iCalendar yang tampak hanya angka 2012 yang tersenyum penuh kemenangan. Mgkn dalam hatinya ia terbahak, ia muncul sementara tiap mahluk yang memandangnya justru telah menambah satu kerutan lagi di wajahnya.
Posted in Aku dan Gila | Tagged aku, bosan, perempuan, pikiranku, sahabat, teman | Leave a Comment »
“Romeo and Juliet” mgkn bukan cerita yang terlalu asing didengar. Dalam versi tulisan hingga versi layar lebar dengan berbagai pemeran pernah hadir mewarnai banyak bioskop ternama. Muncul dalam berbagai modifikasi kisah, serta penyesuaian jaman.
Pernahkah terlintas jika kisah itu sungguh ada?
Posted in Aku dan Gila | Tagged aku, Bali, cinta, cowok, ngekngok ku, perempuan, pikiranku, terima kasih | 1 Comment »
Angka digital sudah menjerit menuju stengah dua, tapi langit masih subuh dan kedua lubang hidung ini masih tersumbat. Bahkan kedua mata ini tak hentinya menetes. Sudah tak ada lagi kata terucap, hanya bibir yang bergetar menahan perih.
Sudah habis semua kata, sudah berhenti semua amarah, hanya ada batin kosong yang meratapi tiap malam. Sudah, sudah selesai semua. Bila memang kau ingin kembali pada masa lalu mu, kembali lah, berjalanlah mundur dan jangan lagi mengais masa depan di sisi ku.
Posted in Aku dan Gila | Tagged aku, Bali, cinta, cowok, jakarta, ngekngok ku, perempuan, pikiranku, terima kasih | Leave a Comment »
Seperti tehnik membalut luka, mungkin seperti itu pula kita membungkus diri dan perasaan. Tak perlu dibiarkan menganga lebar hingga seluruh mata terbelalak dengan belahan daging yang terus mengucurkan darah itu. Tak perlu juga dibebat terlalu keras hingga bagian di bawahnya justru membiru kehabisan darah.
Seperti yang kita paham, balutlah dengan lembut, penuh perasaan. Tidak terlalu kencang dan tidak terlalu longgar. Cukup. Cukup mengikat hingga belahan lukanya tidak menganga. Cukup kuat hingga darahnya tak lagi mengucur, hanya merembes. Cukup longgar hingga bagian dibawahnya tidak membiru kehabisan darah.
Mungkin seperti itulah luka seharusnya dibalut..
Posted in Aku dan Gila, Sebongkah Rasa | Tagged aku, Bali, cinta, cowok, jakarta, ngekngok ku, perempuan, pikiranku, terima kasih | Leave a Comment »
aku lari, bersembunyi dari malam, detik berdenyut galau, langkahnya melambat saat menuju angka 12. hari apa ini? aku bahkan tak ingat, hanya denyut detik yang membuatku tetap terjaga dan mulai menghitung mundur. aq masih berlari, berusaha bersembuyi dari malam, padahal malam sudah menaungi langit. aku takut bila aku berhenti berlari, aku akan tersadar aku sendirian. aku takut bila aku berhenti bersembunyi dari malam aku akan tersadar kamu sudah pergi. aku takut bila aku terlelap, aku bukan lagi milikmu.
masih malam yang sama. masih denyut detik yang sama, tapi kali ini derit lengannya telah berpindah, sedikit mendesak angka 12. mata ini belum juga redup, justru basah dan sembab. bersamaan dengan deritan lengan yang mendesak malam, memaksa subuh beringsut dari tidurnya, mata ini semakin basah, semakin sembab, tapi tak juga redup.
Posted in Aku dan Gila, Sebongkah Rasa | Tagged aku, Bali, cinta, cowok, jakarta, ngekngok ku, perempuan, pikiranku, terima kasih | Leave a Comment »
Perempuan itu harusnya dinobatkan sebagau mahluk yang paling kuat, paling kokoh yang pernah ada. Bukan. Bukan karena tulangnya terbuat dari baja. Akh, bukan juga. Bukan karena rambutnya tersusun dari anyaman kawat.
Namun, coba tengok sejenak saat ia menahan ribuan tamparan di pipinya hingga sudut bibirnya teriris gigi dan segaris luka sobek yang meneteskan cairan merah itu menghiasi wajahnya. Tak terdengar jerit disana, tak juga tersedak oleh airmatanya. Hanya geming.
Posted in Sebongkah Rasa | Tagged aku, Bali, cinta, cowok, ngekngok ku, perempuan, pikiranku, terima kasih | 1 Comment »
“Hey, dari kapan duduk dsini? Ga tidur lagi kamu?” suara berat yang datang dari balik kepalaku. Aq menggeleng.
“Aq duluan yah. Ituu, aq taruh d meja yah,” aq bergeming, menoleh pun tidak. Sebuah kecupan meluncur di kepalaku, sebuah usapan lembut dan bunyi pintu yang merapat.
Perih kembali menetes. Aq mengerjap, menahan tetesanny, agar hanya dada ini yang sesak dan bahkan mentari pun tak boleh tau, ia bahkan tak layak melihatnya. Sudah kali ketiga dan bahkan sudah lebih dari cukup lembaran merah biru yang menjejali dompet. Kutarik kaki yang tak lagi milikku, merampas amplop di atas meja, menjejaliny ke dalam tas.
Posted in Jeritan Anak Malam | Tagged aku, bosan, cinta, jakarta, mereka, perempuan, pikiranku | Leave a Comment »
